Translate Language

Senin, 09 Januari 2017

Sejarah Singkat Filsafat



Pada periode Yunani Klasik ini, perkembangan filsafat menunjukkan kepesatan, yaitu ditandainya semakin besar minat orang terhadap filsafat. Aliran yang mengawali periode Yunani Klasik ini adalah Sofisme. Hal terpenting dengan munculnya Sofisme ini adalah mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka menyiapkan kelahiran pemikiran filsafat Yunani Klasik yang dipelopori Socrates, Plato dan Aristoteles.
1.        Plato
Plato dengan nama asli Aristocles lahir di Athena pada tahun 427-347 SM, dan hidup sezaman dengan gurunya “Socrates” ia termasuk golongan bangsawan. Plato adalah pengikut Socrates yang taat di antara para pengikutnya yang mempunyai pengaruh besar dan memperkuat pendapat gurunya. Plato mencoba keluar dari Athena untuk menyebarkan sekaligus untuk menambah ilmunya di Mesir. Di negara ini Plato mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru yaitu ditemukannya sebuah Republik baru dan yang baik.
Pemikiran filsafatnya dapat dibagi atas : Alam, Tuhan, Manusia, Negara dan Etika.
Alam menurut Plato terbagi atas dua, yaitu alam fisika (dunia pengalaman), selalu bersentuhan dengan inderawi manusia dan tidak memiliki kesempurnaan.  Kedua alam idea (dunia ide), hanya dijangkau oleh akal pikiran, dengan kebenarannya bersifat tetap (memiliki kesempurnaan) tak berubah.
Jadi, Plato dengan ajarannya tentang ide, berhasil menjembatani pertentangan pendapat antara Herakleitos dan Parmenides. Plato mengemukakan bahwa ajaran dan pemikiran Herakleitos itu benar, tetapi hanya berlaku pada dunia pengalaman. Sebalinya, Parmenides juga benar, tetapi hanya berlaku pada dunia ide yang hanya dapat dipikirkan oleh akal.
Oleh karena itu, Plato telah mengembangkan pemikiran Socrates bahwa hakikat suatu realitas itu bukan “yang umum”, tetapi yang mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada secara konkret, yaitu ide. ide bukanlah gagasan yang hanya terdapat dalam pikiran saja dan bersifat subyektif. Ide ini bukan gagasan yang dibuat manusia melainkan memang sudah ada di alam idea yang hanya dapat dipikirkan dan diketahui oleh akal.
Ajaran ketuhanan menurut Plato adalah  Tuhan bukanlah seperti dunia, karena Tuhan adalah penggerak dunia. Ia berada pada dunia dan bukan dunia yang dihuni oleh manusia karena itu dunia Tuhan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Dengan demikian, Tuhan adalah Maha Tunggal. Manusia hanya dapat menjangkaunya dalam hal ide yang bersifat umum tentang Tuhan itu sendiri yang sifatnya tetap, tetapi esensi tuhan tidak dapat diketahii secara jelas oleh akal manusia.
Manusia menurut Plato terdiri dari dua unsur yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Di dalam diri manusia terdapat tiga bagian yaitu pemikiran(manusia bijak), emosi (manusia penguasa) dan nafsu (manusia rakus). Dari sinilah Plato melahirkan pemikiran tentang negara, karena negara itu adalah gambaran makro dari diri manusia itu sendiri.
Filsafat Plato mengenai negara idea bahwa untuk terciptanya negara yang baik dan demokratis diperlukan pemimpin yang bijaksana yang mementingkan segala persoalan umum. Akan tetapi, untuk hidup yang baik tidak mungkin dilakukan tanpa didalam negara, karena manusia menurut kodratnya merupakan makhluk sosial dan kodratnya didalam negara. Maka, untuk hidup yang baik, dituntut adanya negara yang baik.
Menurut Plato, di dalam negara yang ideal terdapat tiga golongan masyarakat seperti halnya dalam diri manusia terdapat tiga bagian yaitu pertama, golongan yang tertinggi (pemikir) adalah para cendikiawan dan filsuf yang berkewajiban untuk menjadi pemimpin yang bijaksana dalam memerintah. Kedua, golongan pembela negara(pengaman) adalah para prajurit-prajurit yang menjaga keamanan negara yang bertujuan untuk menjamin keselamaatan negara. Ketiga, golongan bawah(rakyat biasa) adalah golongan masyarakat umum seperti petani, nelayan, pedagang, buruh tukang dan sebagainya yang merupakan lapisan terbesar yang menghasilkan sesuatu yang dibuuhkan untuk kehidupan seluruh masyarakat dalam mencapai kemauan dan kesejahteraan masyarakat dibidang ekonomi.
Tugas negarawan adalah menciptakan keselarasan antara semua keahlian dalam negara sehingga mewujudkan keseluruhan yang harmonis. Bentuk pemerintahan harus sesuai dengan keadaan yang nyata. Apabila suatu negara telah mempunyai Undang-Undang Dasar, bentuk pemerintahan yang paling tepat  adalah monarki dan apabila suatu negara belum mempunyai Undang-Undang Dasar bentuk pemerintahan yang paling tepat adalah demokrasi.
Ajaran etika Plato, adalah manusia hendaklah mengambil intisarinya sebagai manusia yang ideal yaitu menjauhkan diri dari pengaruh dunia material dan melatih diri untuk menjauhi kejahatan. Ajaran etikanya dapat ditempuh dengan dua jalan yaitu: pertama, melarikan diri dari dunia bendawi material yang mengganggu dan menodai jiwa. Kedua, senantiasa mengedepankan pengetahuan yang mendalam dari makna budi yang cenderung berbuat yang susila sebagai tujuan ideal manusia.

2.      Aristoteles
Aristoteles , murid dan juga teman Plato adalah orang yang mendapat pendidikanyang baik sebelum menjadi filsuf.  Ia dilahirkan di Stageria, Yunani Utara pada tahun 384 SM. Ayahnya seorang dokter pribadi di raja Macedonia Amyntas yang bernama Machaon. Pada usia 17 tahun, ia dikirimke Athena dan dimasukkan ke Akademia Plato. Waktu itu memang merupakan kebiasaan orang  mengirimkan anaknya ke tempat yang jauh yang merupakan pusat-pusat perkembangan intelektual. Disanalah ia belajar tentu saja dengan Plato. Aristoteles kemudian memimpin akademia yang dibangun oleh Plato untuk mengembangkan ajaran plato tentang ketuhanan, politik, dan perbintangan.
Beberapa pemikiran Aristoteles yang terdiri dari ajaran tentang logika, silogisme, pengelompokan ilmu pengetahuan, potensi dan dinamika, pengenalan, etika dan negara.
Filsafat Aristoteles yang lebih dominan  adalah masalah logika (analitika). Ia terkenal sebagai bapak logika. Logikanya disebut logika tradisional karena nantinya berkembang apa yang disebut logika modern (logika formal). Menurut Aristoteles, berfikir harus dilakukan dengan bertitik tolak pada pengertian-pengertian sesuatu benda. Suatu pengertian memuat dua golongan, yaitu substansi (sifat yang umum), dan aksidensial (sifat yang secara tidak kebetulan). Adapun dasar logikanya adalah berfikir secara teraturmenurut urutan yang tepat atau berdasarkan hubungan sebab akibat. Ia menyusun cara berfikiryang teratur dalam satu sistem , sehingga intisari dari pada logikanya adalah berbentuk silogisme, yaitu tata cara mengambil kesimpulan. Metode penarikan kesimpulan ini menggunakan metode dedukasi yaitu cara mengambil kesimpulan dari persoalan-persoalan yang umum dengan memberikan pengertian guna menarik kesimpulan yang khusus.
Aristoteles mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi tiga golongan, yaitu ilmu pengetahuan praktis (etika dan politik), ilmu pengetahuan produktif (teknik dan kesenian), ilmu pengetahuan teoritis (fisika, matematika, metafisika).
Aristoteles dalam Metaphysics menyatakan bahwa  manusia dapat mencapai kebenaran. Salahsatu teori metafisika Aristoteles yang terpenting adalah pendapatnya yang menyatakan bahwa ide itu bersifat umum dan ril dan tidak bereksistensi dengan dunia pengalaman. Dunia ide pada dasarnya adalah dunia realitas yang dapat dijangkau oleh panca indera yang penuh dengan keanekaragaman yang selalu berubah-ubah.
Prinsip Aristoteles bahwa mustahil benda itu menggerakkan dirinya sendiri, tetapi yang menggerakkannya adalah Tuhan. Aristoteles percaya adanya Tuhan sebagai bukti bahwa Tuhan sebagai penyebab gerak. Tuhan itu menurut Aristoteles berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan dengan alam ini. Dalam mencintai Tuhan, kita tidak usah mengharap Ia mencintai kita. Ia adalah kesempurnaan tertinggi. Pada Aristoteles kita melihat bahwa pemikiran filsafat lebih maju, dasar-dasar sains diletakkan. Tuhan dicapai dengan akal, tetapi ia percaya pada Tuhan. Dari sinilah dapat dilihat titik temu antara konsep ketuhanan Aristoteles dengan konsep dalam Islam. Selain itu, filsafat sejalan antara akal dan hati. Kuasa akal mulai dibatasi, ada kebenaran yang umum, jadi tidak semua kebenaran relatif
Menurut Aristoteles, terdapat dua macam pengenalan, yaitu pengenalan inderawi dan pengenalan rasional. Pengenalan inderawi kita hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang bentuk benda.dan hanya mengenal hal-hal konkret. Sementara itu, pengenalan rasional kita akan dapat memperoleh pengetahuan tentang hakikat dari suatu benda.
Filsafat etika Aristoteles adalah menyangkut estetika atau keindahan yang tertinggi yang dapat diperoleh dengan kesusilaan. Kesusilaan ini dapat diperoleh melalui keutamaan untuk mendapatkan kebahagiaan yang merupakan tujuan akhir yang akan dicapai. Untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki yaitu memadukan kebahagiaan jasmani dan rohani. Sebab itu, manusia harus berfikir senang karena kesusilaan itu terletak pada pemikiran murni.
Menurut Aristoteles, negara akan damai apabila rakyat juga damai. Negara yang paling baik adalah negara dengan sistem demokrasi moderat, artinya sistem demokrasi yang berdasarkan Undang-Undanf Dasar.  

 Sumber : Makalah Kuliah Ilmu Filsafat Umum dan Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar