Pada periode
Yunani Klasik ini, perkembangan filsafat menunjukkan kepesatan, yaitu
ditandainya semakin besar minat orang terhadap filsafat. Aliran yang mengawali
periode Yunani Klasik ini adalah Sofisme. Hal terpenting dengan munculnya Sofisme
ini adalah mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka menyiapkan
kelahiran pemikiran filsafat Yunani Klasik yang dipelopori Socrates, Plato dan
Aristoteles.
1.
Plato
Plato dengan nama asli Aristocles
lahir di Athena pada tahun 427-347 SM, dan hidup sezaman dengan gurunya
“Socrates” ia termasuk golongan bangsawan. Plato adalah pengikut Socrates yang
taat di antara para pengikutnya yang mempunyai pengaruh besar dan memperkuat
pendapat gurunya. Plato mencoba keluar dari Athena untuk menyebarkan sekaligus
untuk menambah ilmunya di Mesir. Di negara ini Plato mendapatkan pengetahuan
dan pengalaman baru yaitu ditemukannya sebuah Republik baru dan yang baik.
Pemikiran filsafatnya dapat dibagi
atas : Alam, Tuhan, Manusia, Negara dan Etika.
Alam menurut Plato terbagi atas
dua, yaitu alam fisika (dunia pengalaman), selalu bersentuhan dengan inderawi
manusia dan tidak memiliki kesempurnaan.
Kedua alam idea (dunia ide), hanya dijangkau oleh akal pikiran, dengan
kebenarannya bersifat tetap (memiliki kesempurnaan) tak berubah.
Jadi, Plato dengan ajarannya
tentang ide, berhasil menjembatani pertentangan pendapat antara Herakleitos dan
Parmenides. Plato mengemukakan bahwa ajaran dan pemikiran Herakleitos itu
benar, tetapi hanya berlaku pada dunia pengalaman. Sebalinya, Parmenides juga
benar, tetapi hanya berlaku pada dunia ide yang hanya dapat dipikirkan oleh
akal.
Oleh karena itu, Plato telah
mengembangkan pemikiran Socrates bahwa hakikat suatu realitas itu bukan “yang
umum”, tetapi yang mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada
secara konkret, yaitu ide. ide bukanlah gagasan yang hanya terdapat dalam
pikiran saja dan bersifat subyektif. Ide ini bukan gagasan yang dibuat manusia
melainkan memang sudah ada di alam idea yang hanya dapat dipikirkan dan
diketahui oleh akal.
Ajaran ketuhanan menurut Plato
adalah Tuhan bukanlah seperti dunia,
karena Tuhan adalah penggerak dunia. Ia berada pada dunia dan bukan dunia yang
dihuni oleh manusia karena itu dunia Tuhan tidak dapat dijangkau oleh pikiran
manusia. Dengan demikian, Tuhan adalah Maha Tunggal. Manusia hanya dapat
menjangkaunya dalam hal ide yang bersifat umum tentang Tuhan itu sendiri yang
sifatnya tetap, tetapi esensi tuhan tidak dapat diketahii secara jelas oleh
akal manusia.
Manusia menurut Plato terdiri dari
dua unsur yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Di dalam diri manusia terdapat
tiga bagian yaitu pemikiran(manusia bijak), emosi (manusia penguasa) dan nafsu
(manusia rakus). Dari sinilah Plato melahirkan pemikiran tentang negara, karena
negara itu adalah gambaran makro dari diri manusia itu sendiri.
Filsafat Plato mengenai negara idea
bahwa untuk terciptanya negara yang baik dan demokratis diperlukan pemimpin
yang bijaksana yang mementingkan segala persoalan umum. Akan tetapi, untuk
hidup yang baik tidak mungkin dilakukan tanpa didalam negara, karena manusia
menurut kodratnya merupakan makhluk sosial dan kodratnya didalam negara. Maka,
untuk hidup yang baik, dituntut adanya negara yang baik.
Menurut Plato, di dalam negara yang
ideal terdapat tiga golongan masyarakat seperti halnya dalam diri manusia
terdapat tiga bagian yaitu pertama, golongan yang tertinggi (pemikir) adalah
para cendikiawan dan filsuf yang berkewajiban untuk menjadi pemimpin yang
bijaksana dalam memerintah. Kedua, golongan pembela negara(pengaman) adalah
para prajurit-prajurit yang menjaga keamanan negara yang bertujuan untuk
menjamin keselamaatan negara. Ketiga, golongan bawah(rakyat biasa) adalah
golongan masyarakat umum seperti petani, nelayan, pedagang, buruh tukang dan sebagainya
yang merupakan lapisan terbesar yang menghasilkan sesuatu yang dibuuhkan untuk
kehidupan seluruh masyarakat dalam mencapai kemauan dan kesejahteraan
masyarakat dibidang ekonomi.
Tugas negarawan adalah menciptakan
keselarasan antara semua keahlian dalam negara sehingga mewujudkan keseluruhan
yang harmonis. Bentuk pemerintahan harus sesuai dengan keadaan yang nyata.
Apabila suatu negara telah mempunyai Undang-Undang Dasar, bentuk pemerintahan
yang paling tepat adalah monarki dan
apabila suatu negara belum mempunyai Undang-Undang Dasar bentuk pemerintahan
yang paling tepat adalah demokrasi.
Ajaran etika Plato, adalah manusia
hendaklah mengambil intisarinya sebagai manusia yang ideal yaitu menjauhkan
diri dari pengaruh dunia material dan melatih diri untuk menjauhi kejahatan.
Ajaran etikanya dapat ditempuh dengan dua jalan yaitu: pertama, melarikan diri
dari dunia bendawi material yang mengganggu dan menodai jiwa. Kedua, senantiasa
mengedepankan pengetahuan yang mendalam dari makna budi yang cenderung berbuat
yang susila sebagai tujuan ideal manusia.
2. Aristoteles
Aristoteles
, murid dan juga teman Plato adalah orang yang mendapat pendidikanyang baik
sebelum menjadi filsuf. Ia dilahirkan di
Stageria, Yunani Utara pada tahun 384 SM. Ayahnya seorang dokter pribadi di
raja Macedonia Amyntas yang bernama Machaon. Pada usia 17 tahun, ia dikirimke
Athena dan dimasukkan ke Akademia Plato. Waktu itu memang merupakan kebiasaan
orang mengirimkan anaknya ke tempat yang
jauh yang merupakan pusat-pusat perkembangan intelektual. Disanalah ia belajar
tentu saja dengan Plato. Aristoteles kemudian memimpin akademia yang dibangun
oleh Plato untuk mengembangkan ajaran plato tentang ketuhanan, politik, dan
perbintangan.
Beberapa
pemikiran Aristoteles yang terdiri dari ajaran tentang logika, silogisme,
pengelompokan ilmu pengetahuan, potensi dan dinamika, pengenalan, etika dan
negara.
Filsafat
Aristoteles yang lebih dominan adalah
masalah logika (analitika). Ia terkenal sebagai bapak logika. Logikanya disebut
logika tradisional karena nantinya berkembang apa yang disebut logika modern
(logika formal). Menurut Aristoteles, berfikir harus dilakukan dengan bertitik
tolak pada pengertian-pengertian sesuatu benda. Suatu pengertian memuat dua
golongan, yaitu substansi (sifat yang umum), dan aksidensial (sifat yang secara
tidak kebetulan). Adapun dasar logikanya adalah berfikir secara teraturmenurut
urutan yang tepat atau berdasarkan hubungan sebab akibat. Ia menyusun cara
berfikiryang teratur dalam satu sistem , sehingga intisari dari pada logikanya
adalah berbentuk silogisme, yaitu tata cara mengambil kesimpulan. Metode
penarikan kesimpulan ini menggunakan metode dedukasi yaitu cara mengambil
kesimpulan dari persoalan-persoalan yang umum dengan memberikan pengertian guna
menarik kesimpulan yang khusus.
Aristoteles
mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi tiga golongan, yaitu ilmu pengetahuan
praktis (etika dan politik), ilmu pengetahuan produktif (teknik dan kesenian),
ilmu pengetahuan teoritis (fisika, matematika, metafisika).
Aristoteles
dalam Metaphysics menyatakan bahwa
manusia dapat mencapai kebenaran. Salahsatu teori metafisika Aristoteles
yang terpenting adalah pendapatnya yang menyatakan bahwa ide itu bersifat umum
dan ril dan tidak bereksistensi dengan dunia pengalaman. Dunia ide pada
dasarnya adalah dunia realitas yang dapat dijangkau oleh panca indera yang
penuh dengan keanekaragaman yang selalu berubah-ubah.
Prinsip
Aristoteles bahwa mustahil benda itu menggerakkan dirinya sendiri, tetapi yang
menggerakkannya adalah Tuhan. Aristoteles percaya adanya Tuhan sebagai bukti
bahwa Tuhan sebagai penyebab gerak. Tuhan itu menurut Aristoteles berhubungan
dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan dengan alam ini. Dalam mencintai
Tuhan, kita tidak usah mengharap Ia mencintai kita. Ia adalah kesempurnaan
tertinggi. Pada Aristoteles kita melihat bahwa pemikiran filsafat lebih maju,
dasar-dasar sains diletakkan. Tuhan dicapai dengan akal, tetapi ia percaya pada
Tuhan. Dari sinilah dapat dilihat titik temu antara konsep ketuhanan Aristoteles
dengan konsep dalam Islam. Selain itu, filsafat sejalan antara akal dan hati.
Kuasa akal mulai dibatasi, ada kebenaran yang umum, jadi tidak semua kebenaran
relatif
Menurut
Aristoteles, terdapat dua macam pengenalan, yaitu pengenalan inderawi dan
pengenalan rasional. Pengenalan inderawi kita hanya dapat memperoleh
pengetahuan tentang bentuk benda.dan hanya mengenal hal-hal konkret. Sementara
itu, pengenalan rasional kita akan dapat memperoleh pengetahuan tentang hakikat
dari suatu benda.
Filsafat
etika Aristoteles adalah menyangkut estetika atau keindahan yang tertinggi yang
dapat diperoleh dengan kesusilaan. Kesusilaan ini dapat diperoleh melalui
keutamaan untuk mendapatkan kebahagiaan yang merupakan tujuan akhir yang akan
dicapai. Untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki yaitu memadukan kebahagiaan
jasmani dan rohani. Sebab itu, manusia harus berfikir senang karena kesusilaan
itu terletak pada pemikiran murni.
Menurut
Aristoteles, negara akan damai apabila rakyat juga damai. Negara yang paling
baik adalah negara dengan sistem demokrasi moderat, artinya sistem demokrasi
yang berdasarkan Undang-Undanf Dasar.
Sumber : Makalah Kuliah Ilmu Filsafat Umum dan Pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar