Translate Language

Rabu, 11 Januari 2017

Kaitan Puisi dan Fisika

Meminjam Shakespeare, apalah arti y = x + 1 ! Bagi banyak orang, persamaan itu tak lebih pernyataan abstrak belaka. Ia tak bermakna apa pun, berada pa-da jarak yang jauh dari realitas. Simbol-simbol abstrak itu tak mewakili sesua-tu yang benar-benar eksis. Maka, semula membayangkan E = mc2 atau E = hf (yang digubah oleh Max Planck, lebih dahulu daripada Albert Einstein) akan mengubah pandangan dunia tentang materi adalah kemustahilan belaka.

Tapi, tidak demikian bagi sejumlah fisikawan yang berhasil menanamkan nama
-nya ke dalam persamaan-persamaan itu: Planck, Einstein, maupun Dirac un-tuk menyebut beberapa dari yang sedikit (dari ratusan ribu ilmuwan riset ya-ng pernah hidup, sangat sedikit persamaan penting yang terkait dengan nama mereka). Bagi mereka, persamaan fundamental adalah ekspresi keseimbangan yang sempurna. Bom yang jatuh di Nagasaki dan Hiroshima merupakan eks-presi nyata dari keseimbangan materi dan energi dalam E = mc2.

Seperti
kebanyakan persamaan besar lainnya, rumusan yang diusulkan Einste-in pada 1905 itu menyatakan kesetaraan yang secara superfisial amat berbe-da : energi, massa, dan kecepatan cahaya di dalam vakum. Lewat persamaan inilah Einstein meramalkan bahwa untuk setiap massa (m), jika Anda mengali-kannya dengan kuadrat dari kecepatan cahaya di dalam vakum (c), hasilnya adalah persis sama dengan energi yang bersangkutan (E). Layaknya setiap per-samaan besar lain, E = mc2 menyeimbangkan dua kuantitas.

Persamaan yang menghebohkan ini mengundangkan spekulasi saat pertama kali dipublikasi. Baru beberapa dekade kemudian persamaan ini menjadi bagi
-an dari sel-sel darah pengetahuan ilmiah, setelah ilmuwan-eksperimental me-nunjukkan bahwa begitulah yang terjadi dengan alam semesta kita. Bahkan dunia benar-benar terkejut tatkala formula yang sederhana itu ternyata mam-pu menghentikan Perang Dunia II saat diwujudkan menjadi bom-bom atom yang meledakkan kedua kota penting di Jepang itu.

E = mc2, dalam banyak hal, serupa puisi besar. Ia tak ubahnya soneta sempur
-na yang akan berantakan manakal satu notnya diubah. Tidak satu pun detail dari persamaan besar seperti E = mc2, atau pun E = hf, yang dapat diubah tanpa merontokkan arti persamaan itu. Persamaan besar juga berbagi dengan puisi indah suatu kekuatan luar biasa puisi adalah bentuk bahasa paling dan berbobot, sebagaimana persamaan ilmiah adalah bentuk pemahaman paling ringkas terhadap realitas fisik yang digambarkannya. E = mc2 sangatlah digda-ya : simbol-simbolnya memadatkan ke dalam kapsul pengetahuan yang dapat diterapkan untuk setiap konversi energi, dari setiap sel dari setiap benda hi-dup di muka bumi hingga ledakan kosmis pada jarak yang amat jauh.

Terhadap imajinasi, persamaan-besar adalah stimulus yang sama kaya dan menggairahkannya dengan puisi. Sebagaimana Shakespeare membangkitkan berbagai ilham lewat puisi-puisi dalam dramanya, Einstein merangsang imajina
-si fisikawan dalam meramalkan konsekuensi-konsekuensinya. Meski, tak ber-arti keserupaan itu bermakna kesamaan. Setiap puisi ditulis dalam bahasa partikular dan kerap kehilangan daya magisnya begitu diterjemahkan, persa-maan besar tidak. Sebab, ia diekspresikan dalam bahasa universal. E = mc2 da-lam bahasa Inggris sama saja dengan E = mc2 dalam bahasa Jawa.

Puisi mencari berbagai makna dan membuka interaksi antara kata-kata dan pikiran-pikiran, sementara ilmuwan meniatkan persamaan mereka untuk me
-nyatakan makna logis yang tunggal. Bila puisi bertumpu pada kata, fisika ber-sandar pada aksara dan angka. Keduanya memang bercerita tentang dunia dengan caranya sendiri.

Para pemikir takluk di hadapan teka-teki tentang mengapa begitu banyak hu
-kum alam dapat ditulis secara meyakinkan dalam bentuk persamaan matema-tis. Mengapa begitu banyak hukum alam yang dapat diekspresikan sebagai im-peratif absolut, bahwa dua kuantitas yang tampaknya tidak berhubungan (si-si-sisi kiri dan kanan persamaan) adalah sama secara eksak ? Salah satu penje-lasannya, yang mungkin terdengar bercanda, ialah bahwa Tuhan itu matema-tikawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar